...live your life.

Sunday, November 14, 2010

TOPENG (Sinopsis)

“TOPENG”
By. FHS
Pada bulan maret tahun 1995 terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan di kota Surabaya. Peristiwa itu adalah penemuan travel bag yang berisi potongan tubuh manusia di ruang tunggu keberangkatan Stasiun kereta api. Travel bag itu ditemukan oleh salah seorang penjaga kebersihan yang sedang bertugas waktu itu. Setelah dilakukan autopsi, untuk sementara diduga bahwa korban mutilasi berjenis kelamin laki-laki dengan usia antara 9 hingga 13 tahun. Menurut keterangan saksi pertama, pada malam itu ada seorang pria bertubuh kekar membawa travel bag dan duduk di ruang tunggu keberangkatan. Pria itu berkulit hitam, sepertinya berasal dari suku Papua atau kemungkinan juga seorang turis yang berasal dari Afrika. Menggunakan syal berwarna coklat, mantel hitam, topi cowboy dan berkaca mata hitam. Setelah itu saksi ini tidak mengetahui kelanjutannya karena dia harus menaiki kereta yang akan berangkat ke Jakarta. Keterangan saksi pertama dibenarkan oleh saksi kedua. Yaitu bahwa dia sempat berpapasan dengan pria yang dimaksudkan di pintu exit. Saat itu dia akan masuk ke stasiun untuk menjemput salah seorang kerabatnya yang baru tiba dari Jogjakarta. Karena menurutnya pintu exit tidak dijaga oleh petugas, maka dia masuk lewat pintu exit. Saat itulah mereka berpapasan bahkan hampir bertabrakan. Saksi kedua ini menyatakan bahwa saat itu pria yang dimaksudkan tidak membawa barang apa pun. Untuk sementara keterangan ini mengarahkan para petugas kepolisian kepada satu pelaku. Polisi agak kesulitan untuk melacak identitas pelaku karena tidak ditemukan sedikit pun sidik jari pada travel bag tersebut. Dugaan sementara bahwa pelaku sering menggunakan sarung tangan untuk mengaburkan identitasnya.
Satria adalah seorang detektif. Saat ini dia sedang menangani kasus hilangnya anak laki-laki dari seorang Dirut perusahaan swasta terkenal di Jakarta. Anak ini bernama Bryan. Bryan secara misterius hilang pada 3 bulan yang lalu. Saat itu sopir yang biasanya menjemputnya di sekolah tidak menemukan Bryan. Saat ditanyakan ke beberapa teman sekolahnya, mereka hanya menginformasikan bahwa Bryan saat itu sudah dijemput menggunakan mobil sedan. Sopirnya tidak jelas terlihat karena kaca sedan itu gelap. Hal ini kemudian dilaporkan kepada polisi dengan laporan penculikan. Satria menemukan jalan buntu karena sampai saat ini penculik tidak pernah menghubungi keluarga untuk meminta tebusan. Tapi pencarian tetap terus dilakukan hingga berita mengenai hilangnya Bryan sudah disebarluaskan baik melalui surat kabar maupun stasiun televisi. Satria juga sudah menurunkan intel di setiap lokasi strategis untuk melacak pelaku penculikan.
Berita mengenai penemuan potongan tubuh yang dicurigai berjenis kelamin laki-laki dengan usia kira-kira 9 sampai 13 tahun di Surabaya mengganggu pikiran Satria. Insting Satria mengatakan bahwa kemungkinan itu adalah mayat Bryan. Hanya saja dia tidak mau mengembangkan pikiran negative tersebut. Dia tetap yakin bahwa Bryan masih hidup. Hal ini selalu dia katakan ketika berhadapan dengan keluarga Bryan untuk menenangkan mereka. Namun Satria tetap merasa gelisah, bahkan dia sering memimpikan Bryan. Dalam mimpinya, Bryan sering datang dengan rupa yang sangat menyeramkan. Hal ini sangat mengganggu Satria hingga dia memutuskan untuk bertemu dengan seorang psikiater. Namanya Pak Minto.
2 minggu setelah penemuan potongan tubuh di Surabaya, terjadi penemuan potongan tubuh lainnya di kota Bandung. Potongan mayat ini juga ditemukan dalam travel bag. Travel bag diletakkan di dalam bagasi bus antar kota dan ditemukan oleh seorang kondektur bus. Sangat susah untuk mengidentifikasi potongan mayat ini karena yang ditemukan hanya potongan kaki dan tangan. Tapi diperkirakan bahwa korban adalah anak berusia antara 8 hingga 10 tahun. Temuan ini kemudian dikaitkan dengan penemuan potongan tubuh sebelumnya di Surabaya. Dari hasil tes DNA diketahui bahwa penemuan potongan tubuh di Bandung berasal dari korban yang berbeda. Artinya dalam 2 minggu ini sudah ada dua anak kecil yang menjadi korban pembunuhan dengan modus mutilasi. Setelah mendengar berita ini, Satria kemudian menyimpulkan bahwa kasus itu adalah kasus pembunuhan berantai. Walaupun demikian pihak reskrim Bandung belum mau terlalu jauh menyimpulkan hal ini karena tidak ada saksi ataupun petunjuk yang mengarahkan kepada pelaku pembunuhan di Bandung.
Satria teringat akan kasus pembunuhan serupa yang dia tangani pada 1 tahun yang lalu. Kasus itu sudah ditutup karena pelakunya sudah tertangkap dan sekarang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Pelaku dinyatakan mengidap suatu kelainan jiwa sehingga perlu mendapatkan perawatan. Satria merasa perlu untuk mengunjungi pelaku itu. Mungkin dari sana dia bisa mendapatkan suatu petunjuk. Konon setelah perbuatannya terungkap, pelaku menjadi depresi, dan sering berbicara sendiri. Pelaku tidak mau diajak berbicara kecuali dengan psikiaternya, Pak Syamsul. Terkadang dia menangis meraung-raung lalu berteriak dengan keras. Melalui psikiaternya inilah Satria berupaya untuk berkomunikasi dengan pelaku. Satria memberikan daftar pertanyaan kepada psikiater untuk ditanyakan ke pelaku. Walaupun psikiater sudah menyarankan bahwa hal itu akan sia-sia karena jawaban pelaku tidak akan masuk akal, Satria tetap bersikeras. Wawancara pun berlangsung yang kemudian harus diakhiri karena pelaku tiba-tiba kumat, menangis lalu berteriak-teriak sendiri. Ketika pelaku dibawa menuju ruangannya, Satria sempat berpapasan dengannya. Pelaku semakin menjadi-jadi dan berteriak “pembunuh…pembunuh…” sambil tertawa meninggalkan Satria. Satria pun kembali ke markasnya setelah mendapatkan informasi dari psikiater tersebut.
Mimpi buruk sering dialami oleh Satria akhir-akhir ini, hal ini membuat Satria sering mengunjungi psikiater. Selain itu Satria juga sering berkonsultasi dengan atasannya Pak Wibowo mengenai kasus yang sedang berkembang saat ini, juga mengenai kasus penculikan yang dia tangani saat ini yang sepertinya menemui jalan buntu. Terkadang Satria harus lembur hingga larut malam demi mencari petunjuk mengenai kasus yang sedang dia tangani. Dan mimpi buruk itu pun masih terus menghantuinya. Beruntung Satria memiliki teman bernama Norma. Dia adalah seorang polwan. Satria sering menumpahkan keluh kesah kepada Norma. Lama-kelamaan Satria menaruh perasaan suka kepada Norma. Merekapun berpacaran. Satria pernah mengatakan kepada Norma bahwa wajah Norma mirip dengan mamanya yang sudah lama meninggal akibat kebakaran. Saat itu Satria berusaha menolong tetapi terlambat. Mamanya sangat sayang kepada Satria dan sering melindungi Satria dari amarah ayah tirinya.
Dalam melaksanakan tugas, Satria selalu didampingi oleh seorang rekan bernama Cahya. Cahya adalah seorang detektif berpangkat setingkat lebih rendah dari Satria. Namun karena daya analisanya yang tinggi serta kemampuan fisiknya yang bagus membuat satria senang untuk berpasangan dengannya. Hanya saja Cahya sepertinya terlalu ingin mencampuri kehidupan pribadi Satria sehingga terkadang Satria merasa jengkel dan risih kepada Cahya.
Penemuan potongan tubuh mayat kembali terjadi berulang kali. Modusnya sama yaitu ditaruh di dalam travel bag. Pihak kepolisian perlu bekerja keras untuk mengungkap kasus pembunuhan ini. Pada suatu penemuan potongan tubuh di Jogjakarta, ditemukan potongan kepala di dalam travel bag. Kepala ini memang sudah busuk, namun polisi masih dapat merekonstruksi wajah korban. Dan ternyata, potongan kepala ini adalah milik Bryan. Untuk memastikan dilakukan tes DNA dan ternyata sesuai. Berita ini diterima oleh Satria, dan Satria merasa sangat terpukul karena dia tidak sanggup menyelamatkan nyawa Bryan. Ternyata instingnya selama ini benar. Keluarga Bryan pun sangat terpukul dengan berita ini. Sebagai pertanggung jawaban Satria, dia berjanji untuk menangkap pelaku pembunuhan. Kali ini polisi mengarahkan pada pelaku yang sama. Artinya bahwa kasus ini merupakan kasus pembunuhan berantai. Satria meminta kepada Pak Wibowo untuk mengikutkan dia ke dalam penyelidikan kasus ini karena menurutnya dia sudah pernah menangani kasus serupa. Selain itu Satria sudah berjanji kepada keluarga Bryan untuk menangkap pelaku pembunuhan yang telah menghabisi Bryan. Satria juga mengajukan Cahya rekannya untuk ikut serta karena dia memiliki daya analisa yang sangat baik. Pengungkapan kasus pembunuhan ini semakin menemukan titik terang karena kepolisian berhasil menemukan pola pelaku dalam melancarkan aksinya. Sepertinya pelaku mengajak polisi untuk mengikuti pola yang dirancangnya. Dengan menganalisa nomor kombinasi kunci travel bag yang ditinggalkan pelaku, polisi dapat menebak siapa yang menjadi korban berikutnya. Sasaran pelaku berikutnya adalah cucu laki-laki dari seorang direktur perusahaan tekstil terkenal di Bekasi. Polisi harus bertindak dengan cepat karena pelaku dapat saja segera melancarkan aksinya. Di rumah direktur itu akhirnya ditempatkan polisi yang bertugas untuk mengamankan. Tetapi pelaku ternyata sangat pintar mengelabuhi petugas yang berjaga sehingga berhasil membawa kabur korban. Namun beruntung, Cahya berhasil memergoki dan mengejar pelaku. Aksi kejar-kejaran terjadi antara pelaku dan Cahya. Pelaku berhasil lolos dari kejaran cahya dan berhenti pada sebuah pabrik tua.
Satria ternyata sudah berada di pabrik itu dan berusaha untuk mengejar pelaku. Si pelaku terus berlari menghindari Satria. Sementara Satria terus berlari mengejar pelaku, ada perasaan aneh yang dirasakan oleh Satria. Dia merasa sedang berlari mengejar seseorang tetapi di saat yang bersamaan dia juga merasa sedang berlari menghindari kejaran seseorang. Kemudian terjadi hal yang aneh dalam dirinya. Dia merasa bahwa dia memiliki diri yang lain yang akan memisahkan diri. Begitu hebatnya gejolak yang terjadi hingga dia merasakan sakit kepala yang luar biasa. Kemudian Satria menyadari bahwa dia sedang membawa seorang anak kecil. Anak kecil yang merupakan calon korban pelaku pembunuhan yang selama ini dia lindungi. Sesaat kemudian dia berubah lagi menjadi bengis dan memiliki jiwa pembunuh. Dia ingin segera bercinta dengan anak itu lalu membunuhnya. Tetapi kemudian dia berubah lagi menjadi seorang Satria. Seorang detektif dengan naluri memberantas kejahatan dan melindungi masyarakat. Seorang detektif yang sedikit lagi akan mengungkap kejahatan pembunuhan berantai selama ini. Perubahan kepribadian ini terjadi berganti-gantian dengan cepat sehingga tampak sekali bahwa sedang ada dua pribadi dalam satu tubuh. Sementara Satria mengalami perubahan kepribadian, Cahya ternyata berhasil menyusul Satria dan meminta Satria untuk segera menyerah. Satria berusaha mengelabuhi Cahya agar Cahya dapat melepaskan dia, namun Cahya tidak terpengaruh. Satria kemudian menembak Cahya, namun Cahya juga sempat melepaskan tembakan. Mereka sama-sama tersungkur jatuh. Tak lama kemudian satuan polisi berhasil sampai ke TKP dan mengamankan lokasi. Di TKP ditemukan barang bukti berupa topeng yang sering digunakan pelaku serta travel bag yang berisi gergaji dan pisau. Semuanya ditemukan di mantel dan bagasi mobil Satria. Dari pengusutan ternyata Satria adalah pelaku pembunuhan berantai selama ini.
Beruntung bahwa Satria dan Cahya masih hidup. 1 tahun telah berlalu. Sekarang Satria berada di rumah sakit jiwa. Dia divonis memiliki perilaku menyimpang, kepribadian ganda. Satria hanya dapat tersenyum kepada Cahya yang datang mengunjunginya. Dia melambai kepada Cahya dengan telapak tangan yang tampak terluka akibat api. Di samping Cahya ada Pak Wibowo kepala RSJ, Pak Syamsul dan Pak Minto yang sebenarnya adalah psikiater Satria, dan Ibu Norma seorang perawat RSJ yang selama ini dianggapnya sebagai pacarnya. Sampai saat ini Satria masih sering mengalami perubahan kepribadian.
Penokohan:
Satria adalah seorang yang berkepribadian ganda. Kepribadian utamanya adalah sebagai seorang detektif yang bertugas untuk menyelidiki kasus hilangnya seorang anak direktur perusahaan swasta terkenal di Jakarta. Namun pada sisi yang lain Satria memiliki kepribadian psikopat, paedophilia yang telah membunuh banyak korban lalu memutilasi mayat korban. 
Orang tua Satria sudah bercerai sejak dia masih kecil. Sejak itu Satria tinggal bersama ibunya. Ibunya kemudian kawin lagi dengan seorang pengusaha yang kaya raya. Ayah tiri Satria adalah seseorang yang memiliki kelainan orientasi seksual (biseksual). Dia sering menyiksa Ibu Satria bahkan sering melakukan sodomi kepada Satria. Suatu saat Ayah Satria pulang dalam keadaan mabuk lalu membakar seisi rumahnya. Satria berhasil meloloskan diri namun Ibunya mati dalam kebakaran itu walaupun Satria sempat berupaya menolongnya. Karena ingin menolong Ibunya, telapak tangan Satria terluka hingga tidak memiliki sidik jari. Sejak saat itu Satria menjadi sangat benci dengan Ayah tirinya. 
Entah bagaimana caranya Satria bisa diterima di Kepolisian. Sejak memasuki Akademi Kepolisian, Satria mengalami hal-hal yang aneh. Satria sering berganti-ganti kepribadian. Perubahan yang mendadak ini menimbulkan kecurigaan bagi sahabatnya Cahya. Saat Satria menjadi pribadi psiko, dia senang untuk bercinta dengan seorang anak kecil. Setelah puas bercinta, anak itu kemudian di bunuh dan dimutilasi. Namun demikian, sebagai seorang psiko, Satria pintar untuk menyamar dan mengelabuhi pihak kepolisian. Dia menggunakan topeng dari bahan yang mirip kulit dengan tekstur wajah yang sempurna untuk menyamarkan wajahnya. Selain itu dia juga membuat pelapis telapak tangan sangat tipis yang dapat menyamarkan luka bakar pada tangannya. Semua ini diciptakan sendiri oleh Satria, dan hal ini semakin menyulitkan pihak kepolisian untuk melacaknya. Hanya saja, Satria suka “bermain-main” dengan kejahatannya, meninggalkan pola yang dapat ditebak dengan mudah oleh rekannya (Cahya). Akhirnya Cahya sendiri yang berhasil menguak kejahatan Satria, walaupun sebenarnya Cahya sendiri tidak percaya bahwa Satria adalah pelaku utama kejahatan itu.


Sifat Cerita: Alur mundur

Tuesday, November 2, 2010

Permen Jahe Untuk Wulan (Sinopsis)


“PERMEN JAHE UNTUK WULAN”
Wulan adalah siswi SMU kelas 11 jurusan IPA yang sangat mengagumi Stanley. Stanley adalah kakak kelas Wulan yang berparas ganteng, macho dan sangat diidolakan oleh para siswi karena dia merupakan salah satu anggota tim bola basket di sekolah. Wulan sering membayangkan Stanley menjadi pacarnya. Setiap hari pikiran Wulan selalu dibayangi oleh wajah Stanley. Bahkan Stanley sering hadir dalam mimpi Wulan. Akan tetapi Wulan sadar bahwa dirinya tidak cukup seksi dan cantik untuk menarik perhatian Stanley.
Wulan memiliki teman sekelas bernama Cupu. Cupu bertampang kuper dan agak jadul. Cupu gemar sekali menghisap permen jahe. Baginya jahe memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Cupu ingin berbagi manfaat jahe kepada Wulan. Namun sayang, Wulan pernah trauma dengan jahe di masa kecil hingga saat ini membenci jahe.
Suatu saat Stanley meminta bantuan Wulan untuk merancang acara ulang tahunnya yang ke-17 di rumah Stanley. Stanley meminta Wulan untuk menyusun acara pesta kebun dengan konsep jahe. Tentu saja Wulan tidak menolak. Namun Wulan menjadi bingung untuk merancang acara dengan konsep jahe karena dia sendiri sangat benci dengan jahe. Untung ada Cupu yang bersedia membantu Wulan. Hubungan Wulan dan Cupu kemudian menjadi akrab karena mereka bekerja bersama dalam merancang acara Stanley.
Di balik niat Wulan untuk membantu Stanley, ternyata Wulan memiliki harapan yang besar kepada Stanley. Dia berharap saat acara pesta nanti Stanley memberikan kejutan dengan menjadikan Wulan sebagai pacarnya. Ternyata kenyataan berkata lain. Stanley sudah memiliki orang lain untuk dijadikan pacar. Hati Wulan hancur dan berbalik membenci Stanley. Akan tetapi Cupu berhasil menghibur Wulan dan menenangkan hatinya. Beberapa waktu kemudian, Cupu ternyata pindah sekolah ke kota lain. Wulan yang sudah mulai akrab dan senang kepada Cupu merasa sangat kehilangan dengan kepergian Cupu.
Wulan berhasil menyelesaikan pendidikannya di tingkat SMU dan memperoleh prestasi akademik yang sangat baik. Hal ini membuat dirinya diterima di Institut Pertanian Bogor tanpa mengikuti tes. Wulan akhirnya melanjutkan kehidupannya di kota Bogor. Dan ternyata di sana Cupu telah menanti kedatangannya.

Wednesday, September 29, 2010

Menarilah Emak (Sinopsis)


SINOPSIS "MENARILAH EMAK"
By. Freddy HS

Ibu Suryati yang biasa dipanggil emak adalah seorang penari tradisional yang professional. Usianya saat ini memang sudah tua. Tetapi jika emak sudah menari, gerakan-gerakan tubuhnya masih terlihat gemulai dan gesit. Emak memiliki seorang anak perempuan bernama Juminah. Juminah, oleh orang-orang di kampungnya dan ibunya sendiri lebih akrab dipanggil Jum. Jum dulunya adalah seorang karyawan di perusahaan kertas. Tetapi karena PHK, Jum akhirnya pulang ke kampungnya, sebuah desa kecil yang berada di lereng gunung, dan bekerja sebagai seorang petani.
Setelah emak sudah tua dan tidak melatih tari lagi di kota, emak pulang menyusul anaknya di kampung. Hasrat emak untuk tetap menari terus dibawa hingga ke kampung. Walaupun tidak ada panggung untuk menari, emak memiliki ladang ilalang yang luas sebagai tempat untuk menari. Setiap sore, emak sudah berada di tempat itu untuk menari. Bagi kebanyakan orang kampung, emak sudah dianggap gila. Jum bahkan sudah berkali-kali disuruh orang kampung dan Pak Lurah untuk memeriksakan kondisi kejiwaan emak. Tapi emak menolak dikatakan gila. Emak menari karena emak memang suka menari. Emak terus menari tanpa menghiraukan orang kampung yang melewati tempat itu sambil bergeleng kepala. Bagi emak, rumput ilalang yang meliuk-liuk terhembus angin itulah para penontonnya yang setia.
Orang-orang pun mulai datang berduyun-duyun untuk menyaksikan emak menari. Ada yang merasa kasihan tetapi kebanyakan dari mereka berdecak kagum atas tarian emak dan bahkan sama sekali tidak menganggap emak gila. Semakin hari pengunjung yang datang semakin banyak. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang kampung untuk menjual jajanan di sekitar lokasi. Pemuda kampung juga membuka penitipan kendaraan. Dalam sekejap lokasi tersebut berubah menjadi ramai.
Suatu saat ada seorang wartawan yang meliput hal ini. Lalu menerbitkan beritanya pada surat kabar dengan judul “tarian alam”. Berita ini sampai ke salah satu stasiun televisi dan kemudian segera mengirimkan reporter untuk meliput berita itu. Latar belakang emak sebagai penari yang handal pun mulai tersebar di media massa. Rekaman tarian emak di padang ilalang benar-benar menarik perhatian pemirsa. Dalam sekejap tayangan emak menduduki rating tertinggi. Perusahaan-perusahaan besar pun mulai menempatkan iklannya dalam acara itu. Emak pun mulai terkenal.
Ternyata Pak Lurah memanfaatkan situasi ini. Ketika salah satu perusahaan susu kalsium menawarkan kontrak iklan dengan emak, Pak Lurah diam-diam mengangkat dirinya sebagai manajer emak. Orang-orang kampung yang lugu tidak pernah tahu kemana larinya uang hasil tarian emak. Mereka sudah cukup merasa diuntungkan dengan ramainya pengunjung yang membeli jajanan setiap kali emak menari di ladang. Lagipula mereka tidak perlu curiga karena orang yang paling mungkin menikmati uang itu selain emak sendiri adalah Jum anaknya. Rumah Jum yang dulu terbuat dari papan sudah berubah menjadi rumah batu. Tetapi Pak Lurah juga telah membangun rumahnya menjadi tingkat dua dan sekarang sudah ada mobil yang diparkir di depan rumah Pak Lurah.
Beberapa hari kemudian datang dua orang berdasi dengan berkendaraan mobil mewah ke kelurahan. Mereka adalah developer perumahan real estate. Mereka ingin membeli ladang tempat emak biasa menari untuk dibangun perumahan mewah. Tentunya mereka sanggup membeli dengan harga yang sangat mahal. Pak Lurah setuju. Keesokan harinya Pak Lurah datang menemui emak dan mengatakan bahwa emak sudah tidak bisa lagi menari di padang itu dengan alasan bahwa besok padang itu akan mulai digarap untuk ditanami bunga. Tetapi Pak Lurah memberikan kesempatan buat emak untuk menari yang terakhir kali sore hari nanti. Emak menjadi sedih, tetapi juga cukup senang karena masih diberikan kesempatan satu kali lagi untuk menari.
Siang itu emak segera pergi ke ladang untuk menari. Sementara Jum mengikutinya dari belakang. Emak menatap ladang itu beberapa saat seolah-olah ingin mengucapkan salam perpisahan. Tak lama kemudian emak sudah mulai menari. Emak mengeluarkan segenap kekuatannya untuk menyalurkan kesenangannya itu hingga emak tampak kesetanan. Emak menari sambil mengeluarkan irama dari mulutnya untuk mengiringinya. Sepertinya inilah penampilan tarian emak yang paling bagus. Keringat bercucuran di leher, kening dan pipi tetapi emak tidak peduli. Emak terus menari. Jum mulai merasa kuatir. Lalu dengan hentakan kaki yang keras ke tanah emak mengakhiri tariannya. Beberapa detik kemudian tubuh emak lunglai dan jatuh ke tanah. Jum berteriak dan berlari menghampiri emak. Jum memanggil emak tapi emak tidak menyahut. Matanya tetap terpejam. Jum mengguncangkan tubuh renta itu tetapi tetap tidak ada reaksi. Kemudian Jum sadar bahwa emak sudah tiada. Jum menjerit tapi tidak ada yang mendengarkan. Emak mati sore itu dengan tersenyum puas.

Clara dan Desta (Sinopsis)

SINOPSIS:

CLARA DAN DESTA

By. Freddy HS.

Clara dan Desta adalah karyawan di kota Jakarta. Walaupun dalam perusahaan yang berbeda tetapi kantor mereka berada pada gedung yang sama. Perkenalan mereka berawal di kantin gedung pada saat antri makan. Clara dan Desta punya hobi yang sama. Menonton film di bioskop. Akhirnya mereka sama-sama menyadari adanya getaran cinta dalam hati mereka. Mereka saling tertarik dan menyukai. Lalu mereka pun memutuskan untuk berpacaran. Awalnya semua dapat berjalan dengan baik. Setiap waktu mereka lalui dengan penuh kemesraan. Mereka bersumpah tidak akan menghianati cinta mereka dan tidak akan selingkuh.

Linda, Putra, dan Grace adalah sahabat mereka. Linda yang masih jomblo dan merasa iri dengan percintaan mereka bertaruh bahwa cinta mereka tidak akan bertahan lama. Sementara Putra dan Grace yakin mereka kelak akan menjadi suami-istri. Linda, Putra, dan Grace pun bertaruh dan membuat suatu scenario yang bertujuan menguji cinta mereka. Mereka mencari pihak ke-tiga untuk merayu Clara dan Desta. Dan berhasil, Clara dan Desta jatuh dalam perselingkuhan. Linda menang taruhannya.

Clara dan Desta masing-masing menyembunyikan rahasia perselingkuhannya dan bisa bersandiwara dengan baik. Banyak kejadian lucu yang terjadi selama mereka bermain “kucing-kucingan” untuk menjaga rahasia mereka. Tapi akhirnya ketahuan juga dan mereka kemudian memutuskan hubungan cinta mereka. Mereka lupa dengan janji setia mereka lalu kembali ke selingkuhan masing-masing.

Ternyata mereka merasakan bahwa selingkuhan mereka memiliki banyak kekurangan. Dan mereka merasa tidak ada seorang pun yang sebaik pacar mereka dulu. Tidak lama kemudian mereka memutuskan selingkuhan mereka. Perasaan hampa, kecewa, marah, kangen, malu dan rasa bersalah campur aduk mereka rasakan selama menjomblo. Mereka ingin rujukan kembali tapi sama-sama merasa sungkan.

Perasaan tersebut semakin menjadi-jadi dan mempengaruhi performa kerja mereka di kantor. Tidak lama kemudian mereka memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan masing-masing. Dan melupakan kenangan masa lalu mereka.

Ternyata takdir mempertemukan mereka pada suatu gedung perkantoran. Hasrat dan harapan untuk rujukan kembali muncul. Namun perasaan sungkan mereka masih menghalangi untuk bicara jujur. Harapan Desta musnah ketika dia mengira Clara sudah memiliki suami. Tetapi Desta nekat ingin berbicara kepada Clara. Mereka akhirnya bisa berbicara dari hati ke hati, tetapi betapa terkejutnya mereka setelah mereka mengetahui bahwa semua kejadian yang telah mereka alami ternyata sudah diatur sedemikian rupa oleh sahabat mereka yang membuat pertaruhan tentang percintaan mereka. Linda, Putra, dan Grace meminta maaf. Clara dan Desta akhirnya berpacaran kembali. Mereka semuanya kembali bersahabat dan menemukan seorang pria yang akan mereka jodohkan dengan Linda.